restugilang08's blog

mencari dan memberi yang terbaik

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

DESEASES NOTEBOOK

PENYAKIT PADA TANAMAN

KACANG TANAH

Disusun Oleh:

Restu Gilang P.           (A34080053)

Maeniwati R.              (A34080054)

Mohammad Karami    (A34080055)

Rizkika Latania A.      (A34080058)

Dosen :

Tri Asmira Damayanti, Dr. Ir. MAgr.

Abjad Asih Nawangsih, Ir. MSi.

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2010

PENDAHULUAN

Sejarah Singkat

Kacang tanah merupakan tanaman pangan berupa semak yang berasal dari Amerika Selatan, tepatnya berasal dari Brazilia. Penanaman pertama kali dilakukan oleh orang Indian (suku asli bangsa Amerika). Di Benua Amerika penanaman berkembang yang dilakukan oleh pendatang dari Eropa. Kacang Tanah ini pertama kali masuk ke Indonesia pada awal abad ke-17, dibawa oleh pedagang Cina dan Portugis. Nama lain dari kacang tanah adalah kacang una, suuk, kacang jebrol, kacang bandung, kacang tuban, kacang kole, kacang banggala. Bahasa Inggrisnya kacang tanah adalah “peanut” atau “groundnut”.

Jenis Tanaman

Sistematika kacang tanah adalah sebagai berikut :

Kingdom         : Plantae atau tumbuh-tumbuhan

Divisi               : Spermatophyta atau tumbuhan berbiji

Sub Divisi       : Angiospermae atau berbiji tertutup

Klas                 : Dicotyledoneae atau biji berkeping dua

Ordo                : Polipetales

Famili              : Leguminosae

Genus             : Arachis

Spesies            : Arachis hypogeae L.; Arachis tuberosa Benth.; Arachis guaramitica Chod & Hassl.; Arachis idiagoi Hochne.; Arachis angustifolia (Chod & Hassl) Killip.; Arachis villosa Benth.; Arachis prostrata Benth.; Arachishelodes Mart.; Arachis marganata Garden.; Arachis namby quarae Hochne.; Arachis villoticarpa Hochne.; Arachis glabrata Benth.

Varietas           : Gajah, Macan, Rusa, Anoa, Tupai, dan lain-lain.

Varietas-varietas kacang tanah unggul yang dibudidayakan para petani biasanya bertipe tegak dan berumur pendek (genjah). Varietas unggul kacang tanah ditandai dengan karakteristik sebagai berikut:

a) Daya hasil tinggi.

b) Umur pendek (genjah) antara 85-90 hari.

c) Hasilnya stabil.

d) Tahan terhadap penyakit utama (karat dan bercak daun).

e) Toleran terhadap kekeringan atau tanah becek.

Varietas kacang tanah di Indonesia yang terkenal, yaitu:

a) Kacang Brul, berumur pendek (3-4 bulan).

b) Kacang Cina, berumur panjang (6-8 bulan).

c) Kacang Holle, merupakan tipe campuran hasil persilangan antara varietasvarietas yang ada. Kacang Holle tidak bisa disamakan dengan kacang “Waspada” karena memang berbeda varietas.

Manfaat Tanaman

Di bidang industri, digunakan sebagai bahan untuk membuat keju, mentega, sabun dan minyak goreng. Hasil sampingan dari minyak dapat dibuat bungkil (ampas kacang yang sudah dipipit/diambil minyaknya) dan dibuat oncom melalui fermentasi jamur. Manfaat daunnya selain dibuat sayuran mentah ataupun direbus, digunakan juga sebagai bahan pakan ternak serta pupuk hijau. Sebagai bahan pangan dan pakan ternak yang bergizi tinggi, kacang tanah mengandung lemak (40,50%), protein (27%), karbohidrat serta vitamin (A, B, C, D, E dan K), juga mengandung mineral antara lain Calcium, Chlorida, Ferro, Magnesium, Phospor, Kalium dan Sulphur.

Sentra Penanaman

Di tingkat Internasional mula-mula kacang tanah terpusat di India, Cina, Nigeria, Amerika Serikat dan Gombai, kemudian meluas ke negara lain. Di Indonesia kacang tanah terpusat di Pulau Jawa, Sumatra Utara, Sulawesi dan kini telah ditanam di seluruh Indonesia.

Syarat Pertumbuhan

a) Curah hujan yang sesuai untuk tanaman kacang tanah antara 800-1.300 mm/tahun. Hujan yang terlalu keras akan mengakibatkan rontok dan bunga tidak terserbuki oleh lebah. Selain itu, hujan yang terus-menerus akan meningkatkan kelembaban di sekitar pertanaman kacang tanah.

b) Suhu udara bagi tanaman kacang tanah tidak terlalu sulit, karena suhu udara minimal bagi tumbuhnya kacang tanah sekitar 28–32 derajat C. Bila suhunya di bawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat, bahkan jadi kerdil dikarenakan pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.

c) Kelembaban udara untuk tanaman kacang tanah berkisar antara 65-75 %. Adanya curah hujan yang tinggi akan meningkatkan kelembaban terlalu tinggi di sekitar pertanaman.

d) Penyinaran sinar matahari secara penuh amat dibutuhkan bagi tanaman kacang tanah, terutama kesuburan daun dan perkembangan besarnya kacang.

Penyakit pada tanaman kacang tanah

Seperti kebanyakan tanaman yang hidup di dunia, kacang tanah juga memiliki gangguan-gangguan dalam proses budidayanya, yaitu berupa hama dan penyakit yang dapat mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangannya. Diantara penyakit-penyakit yang umum ditemukan didalam budidaya tanaman padi diantaranya adalah penyakit layu, sapu setan, bercak daun, karat, dan busuk batang. Diantara beberapa penyakit tersebut kami mencoba membahas 4 penyakit penting yang ada yaitu :

a)Penyakit Layu bakteri yang disebabkan oleh Pseudomonas solanacearum

b)   Penyakit Belang yang disebabkan oleh Bean common mosaic virus

c)Penyakit Bercak daun yang disebabkan oleh Cercospora arachidicola dan C.personatum

d)  Penyakit Busuk batang yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii

DESKRIPSI PATOGEN

1. Penyakit layu ( Bacterial Wilt )

Penyakit ini bagi para petani sudah tidak asing lagi, terutama bagi petani di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Oleh masyarakat petai di daerah ini akibat serangan penyakit ini dikenal dengan istilah Omo Wedang.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum Bakteri Pseudomonas solanacearum ini dapat ditularkan ke tanaman sehat melalui : tanaman, alat-alat pertanian, tanah yang terbawa alat-alat transportasi, aliran air dan vektor serangga yang menghisap bunga (jantung) pisang. Ubi kayu, tembakau, terong, tomat, kentang, kacang – kacangan merupakan inang penyakit ini.

Gejala :

Tanaman muda tiba-tiba layu dengan warna daun tetap hijau, kemudian mati. Daun yang layu tampak seperti bekas disiram air panas sehingga disebut hama wedang. Pada tanaman yang lebih tua, gejala layu terjadi bertahap sehingga hanya sebagian saja yang tampak layu. Apabila tanaman yang terserang dikerat pada bagian akar batangnya dengan pisau, akan nampak noda coklat dan jika dipijit batag akar itu akan mengeluarkan lendir, cairan yang berwarna kuning dari pembuluh kayunya. Cairan tersebut banyak mengandung bakteri yang meyumbat jaringan pembuluh tanaman.

Pengendalian :

Cara mudah untuk mencegah penyakit ini adalah dengan menanam varietas yang tahan terhadap penyakit layu, antara lain gajah, pelanduk, kidang, tapir, lokal Pasuran, dan presi. Cara lain untuk mencegah penyakit ini adalah dengan melakukan rotasi tanaman dengan menanam tanaman lain yang bukan sebagai inang penyakit layu. Pola tanam dengan cara rotasi antara lain kacang tanah – jagung – kedelai – atau kacang tanah – ubi jalar – ubi jalar. Bila biaya memungkinkan, penyakit ini dapat dikendalikan dengan bahan kmia seperti chloropicrin. Bahan kimia ini sangat mahal dan tidak mungkin digunakan di Indonesia. Cara lain yang murah untuk mengendalikannya adalah cara biologi dengan mmanfaatkan Actinomycetes yang bersifat anatagoistik terhadap bakteri P. solanacearum. Pemakaian benih sehat pun upaya menekan penyebaranpenyakit layu pada kacang tanah. Sanitasi juga sangat penting bagi petani yang mempunyai areal tanaman pisang, agar diperhatikan lingkungan kebun pisang agar selalu bersih, jangan sembarangan menempatkan batang-batang pisang yang sudah di tebang. Sebaiknya dibuat parit di sekitar barisan pisang, sehingga tidak tergenang apabila ada air hujan. Dan terapkan sistem drainase yang baik.

2. Penyakit Belang (Peanut mottle desease)

Sampai saat ini sudah dilaporkan terdapat 15 jenis virus yang potensial menyerang kacang tanah.Di Indonesia, penyakit yang disebabkan oleh virus ada delapan virus. Namun jenis yang paling sering terlihat di lapang adalah penyakit belang dan penyakit bilur. Penyakit virus belang pada kacang tanah merupakan penyakit penting dan tersebar luas di daerah pusat pertanian kacang tanah di Indonesia.Kehilangan hasil akibat serangan virus belang berkisar 10 – 60% tergantung dari jenis kacang tanah.Musim dan umur kacang tanah pada saat terinfeksi.

Penyakit ini disebabkan oleh virus yaitu Peanut stripe virus/PstV = Bean common mosaic virus/BCMV. Selain tanarnan kacang tanah, virus belang kacang tanah dapat menginfeksi tanaman kacang-kacangan lain seperti kedelai, kacang buncis, kapri dan lain-lain.

Gejala  :

Gambar 3 Tanaman kacang tanah yang terkena virus belang (http://biogen.litbang.deptan.go.id)

Gejala yang sering dijumpai di lapangan adalah gejala belang berwana hijau tua di kelilingi daerah yang lebih terang atau hijau kekuning – kuningan. Pada umumnya gejala awal pada daun muda terlihat adanya bintik – bintik klorotik yang selanjutnya berkembang menjadi belang – belang melingkar.Pada daun tua berwana hijau kekuningan dengan belang – belang berwana hijau tua. Pertumbuhan tanaman yang terinfeksi menjadi terhambat sehingga tanaman menjadi pendek dibandingkan tanaman sehat terutama apabila terinfeksi pada sat msih muda. Penyimpangan anatomi juga terdapat pada lembaga biji tanaman sakit.

Penularan Penyakit :

1. Penularan secara mekanik

Penyakit belang dapat ditularkan secara mekanik dengan cara menggosokan tanaman cairan daun sakit ke daun tanama yang diuji dengan evektivitas penularan 22,5 % – 100 %.Penularan secara mekanik melalui kontak gesekan dun atau akar tanaman sangat mungkin terjadi.

2. Penularan oleh serangga vector

Di lapangan penularan virus dapat dilakukan oleh serangga vector. Serangga vector yang dapat menularkan penyakit belang kacang tanah adalah beberapa jenis kutu daun yaitu Aphis craccivora, A. glycine, A. porii, Rhopaloshiphum maydis, R.padi.Scizaphis rotundiventrism, Trichosiphonaphis sp. Hysteroneura setariae dan Mycus perslcae.

3. Penularan melalui biji

Biji-biji kacang tanah yang mengandung virus tidak dapat dibedakan dengan biji sehat hanya dengan mendasarkan pada pengamatan biji secara visual, meskipun ada tendensi bahwa biji kacang tanah yang kecil dan keriput kemungkinan mengandung virus lebih besar dibandingkan yang besar dan bernas. Besar penularan penyakit melalui biji kacang tanah ditentukan oleh strain virus, varietas kacang tanah, umur tanaman pada saat terinfeksi dan beberapa factor lain yang terkait..

Pengendalian :

Beberapa cara untuk mengendalikan penyakit belang adalah sebagai berikut :

  • Hindari penanaman secara terus – menerus pada areal yang sama (mengatur waktu tanam).
  • Gunakan benih yang sehat, tidak ada gejala penyakit belang.
  • Singkirkan tanaman dari biji yang tertingal di lapangan.
    • Hindari penanaman kacang tanah di sekitar tanaman inang seperti kacang kedelai dan kacang tunggak.
    • Lakukan penyiangan gulma dengan baik (sanitasi).
    • Rotasi dengan tanaman serealia seperti padi dan jagung.
      • Gunakan insektisida untuk mengendalikan serangga vector bila sudah mencapai batas ambang ekonomi.

3. Penyakit  bercak daun

a. bercak daun awal

Penyakit ini mulai tampak saat tanaman berumur tiga minggu. Penyakit ini hamper dijumpai di seluruh pertanaman kacang tanah, hanya intensitas serangannya yang berbeda.

Penyebab penyakit bercak daun awal adalah jamur Cercospora arachidicola. Penyakit ini dapat ditularkan melalui tanah.

Gejala :

Gejala awal berupa bercak bulat berwarna cokelat tua sampai hitam pada permukaan bawah daun dan cokelat kemerahan sampai hitam pada permukaan atas daun. Pada daun terdapat hal berwarna kuning jelas.

Gambar 4 Daun kacang tanah yang terkena bercak awal (http://www.cals.ncsu.edu/)

Pengendalian :

Penyakit ini dapat menular melalui tanah sehingga pengendalian kultur teknis sangat dianjurkan. Sisa-sisa tanaman harus dibersihkana dari lahan. Selain itu, penggunaan fungisida Daconil 75 WP ( 2kg/ha ), Baycor  300 EC ( 0,5 1/ha ), dan Topsin-M 70 WP ( 0,5 kg/ha ) pada tanaman berumur 7 dan 9 minggu dapat mengurangi serangan hingga sekitar 20%.

b. Berak daun akhir

penyakit ini disebut bercak akhir karena gejalanya timbul pada saat mendekati akhir pertumbuhan tanaman. Penyakit ini lebih berbahaya dibanding bercak daun awal. Suhu dan kelembaban tinggi mendorong timbulnya peyakit. Jamurnya dapat bertahan pada sisa brangkasan dan tanaman kacang tanah yang tumbuh setelah panen. Sejauh ini belum ditemukan inang bagi jamur di luar jenis Arachis. Penyebab penyakit bercak daun akhir ini disebabkan serangan jamur Cercosporidium personatum.

Gejala :

Gejalanya hampir sama dengan bercak daun awal, hanya saja bercaknya lebih kecil, bulat, dan lebih gelap (hitam) pada permukaan bawah daun. Selain daun, tangkai daun dan batang pun dapat diserang. Apabila serangannya parah, daun akan kering dan rontok.

Gambar 5 Daun kacang tanah yang terkena bercak akhir (http://www.cals.ncsu.edu/)

Pengendalian :

Hingga saat ini, pengendalian paling efektif hanyalah dengan fungisida Topsin-M 70 WP sebanyak dua kali (7 dan 9 minggu setelah tanam) dengan dosis 0,5 kg/ha/aplikasi. Selain itu, Antracol 70 WP, Dithane M – 45, Nemispor 70 WP, dan Baycor 300 EC pun dapat digunakan. Dosis digunakan sesuai petunjuk penggunaan pada kemasan. Cara tersebut dapat dikombinasikan dengan menahan varietas tahan, tidak menanam secara berurutan (rotasi tanaman), dan membakar sisa tanaman sakit.

4. Penyakit Busuk Batang

Penyakit busuk batang yang disebabkan oleh cendawan Sclerotium rolfsii merupakan salah satu penyakit penting pada kacang tanah. Biasanya penyakit ini muncul pada pertanaman kacang jika kondisi lingkungan baik untuk pertumbuhan pathogen dan sangat merugikan bagi tanaman. S.rolfsii merupakan cendawan yang bersifat polifag, sehingga memiliki kisaran inang yang luas dari berbagai jenis dan family antara lain : tembakau, cabai, dan rosella (Semangun, 2004).

Gejala :

Batang mati dan dilapisi miselium putih seperti bulu halus hingga munculnya sklerotia cendawan pada batang yang terserang. Bagian tanaman yang terinfeksi biasanya pangkal batang akan berwana coklat gelap yang dikelilingi sclerotia yang berbentuk butiran kecil (Winarsih, 1997). Lebih lanjut sclerotia dapat bertahan dalam tanah selama 7 tahun. Oleh karena itu penyakit busuk batang yang disebabkan pathogen ini masih sulit untuk dikendalikan.(Winarsih, 1997)

Gambar 7 Jamur tumbuh dan menyebar di bagian pankal tanaman pada atau dekat dengan tanah (http://165.91.154.132/Texlab/Multicrop/sb.html)

Deskripsi penyakit :

Sclerotium rolfsii adalah jamur bawaan tanah yang menyerang jaringan tanaman pada atau dekat permukaan tanah. Jamur ini dapat diakui oleh pertumbuhan jamur padat yang mengajarkan suatu-dicuci penampilan putih ke jaringan batang terjajah. Ketika jatuh daun atau sampah lainnya yang hadir, cetakan dapat tumbuh deras di atas permukaan tanah. Seluruh anggota badan pada tanaman layu dan mati sebagai akibat dari jamur busuk batang dekat tanaman utama.
Tanda :

Setelah batang busuk jamur telah membunuh jaringan kacang tanah dan dikonsumsi semua makanan yang tersedia, jamur menghasilkan struktur kelangsungan hidup, disebut sclerotia. Struktur ini bulat dan menyerupai moster biji dalam ukuran, dan putih pada awalnya, kemudian menjadi cokelat dan akhirnya coklat gelap saat jatuh tempo. Sclerotia menyerupai biji bahwa mereka tetap terbengkalai sampai kecambah dirangsang untuk berkecambah Sclerotia. Tampaknya akan dipicu oleh zat yang dipancarkan dari daun kacang tanah abscissed atau bahan organik lainnya di dekat permukaan tanah. Tubuh cendawan membajak untuk mengubur bahan organik atau sampah tanaman tua, diikuti oleh leafspot baik dan pengendalian gulma, dan-dirting budidaya non praktek penting dalam mencegah epidemi yang dapat memicu batang membusuk.

Gambar 8 Struktur Sclerotia muncul pertama kali seperti mutiara pucat pada bagian jamur  (http://165.91.154.132/Texlab/Multicrop/sb.html)
Gambar 9 Sclerotia matang berubah warna menjadi coklat tua

(http://165.91.154.132/Texlab/Multicrop/sb.html)

Siklus Penyakit :

Gambar 8 Siklus penyakit Sclerotium rolfsii (http://www.cals.ncsu.edu/course/pp728/S_minor/Sclerotinia_minor.html)

Pengendalian :

1.Penggunaan Varietas Resisten

Penyakit busuk batang pada kacang tanah yang disebabkan oleh cendawan nekrotropik Sclerotium rolfsii Sacc. merupakan salah satu penyakit penting pada kacang tanah yang seringkali menyebabkan kehilangan hasil yang tinggi. Penggunaan varietas resisten merupakan cara yang paling efektif untuk mengatasi penyakit ini. Pada kacang tanah, perakitan varietas tahan penyakit tertentu biasanya dilakukan dengan hibridisasi dan seleksi, jika tersedia donor gen resisten. Masalahnya adalah, di Indonesia belum ditemukan plasma nutfah yang resisten terhadap infeksi S. rolsii. Induksi variasi somaklonal melalui kultur in vitro somatik embrio disertai dengan seleksi in vitro dengan agens penyeleksi berupa filtrat kultur cendawan patogen merupakan alternatif yang telah banyak dilaporkan efektif untuk mendapatkan varian somaklonal yang resisten terhadap patogen yang bersangkutan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengembangkan metode inokulasi yang paling efisien untuk menapis ketahanan 30 genotipe kacang tanah koleksi terhadap infeksi S. rolfsii di rumah plastik, (2) Mengembangkan teknik seleksi in vitro untuk mendapatkan embrio somatik (ES) kacang tanah yang tahan terhadap toksin metabolit dari cendawan S. rolfsii, kemudian meregenerasikan embrio somatik hasil seleksi in vitro tersebut menjadi tanaman R0, (3) Mengembangkan metode identifikasi dini galur kacang tanah yang toleran terhadap infeksi Sclerotium rolfsii hasil seleksi in vitro dengan filtrat kultur cendawan.  (4) Mengevaluasi tanaman somaklon R1 dan R2, zuriat dari galur R0 untuk karakter-karakter kualitatif, kuantitatif dan resistensinya terhadap penyakit busuk batang Sclerotium.

Untuk mengevaluasi respons ketahanan tanaman kacang tanah terhadap infeksi S. rolfsii di rumah plastik, metode inokulasi yang paling efektif adalah dengan cara melukai pangkal batang dengan jarum, menempelkan inokulum berupa miselia cendawan S. rolfsii pada batang yang dilukai dan menimbunnya dengan tanah. Berdasarkan nilai intensitas serangan penyakit yang diamati, diantara 30 genotipe kacang tanah yang dievaluasi tidak dijumpai genotipe kacang tanah yang tahan terhadap infeksi S. rolfsii. Genotipe yang diuji tergolong agak rentan (4 genotipe), rentan (11 genotipe) dan sangat rentan (15 genotipe).

Dari hasil pengembangan teknik seleksi in vitro pada ES kacang tanah didapatkan metode seleksi dengan agens penyeleksi yang menyebabkan pertumbuhan sub-lethal dari ES yang diseleksi. Seleksi in vitro dilakukan dengan mengulturkan ES dalam media selektif dengan penambahan 30 % filtrat kultur (FK) S. rolfsii selama tiga periode pengulturan, masing-masing selama 1 bulan. Seleksi in vitro yang dilakukan pada 1500 clump ES menghasilkan sejumlah ES yang insensitif terhadap FK cendawan. ES tersebut kemudian dikecambahkan, diregenerasikan menjadi planlet, dan ditransfer ke rumah plastik sehingga didapatkan sebanyak 50 galur tanaman R0, 25 diantaranya menghasilkan benih R0:1. Medium selektif tersebut juga dapat digunakan untuk identifikasi dini terhadap tunas R0 untuk kerentanan atau ketahanannya terhadap infeksi S.rolfsii dengan mengulturkannya secara in vitro selama 1 bulan.

Benih R0:1 selanjutnya ditanam di rumah plastik untuk mendapatkan tanaman R1 hingga dapat menghasilkan benih R1:2. Benih R1:2 ditanam di rumah plastik untuk mendapatkan tanaman R2. Populasi somaklon kacang tanah R0, R1 dan R2 masing-masing dievaluasi untuk keragaman karakter kualitatif, kuantitatif dan resistensinya terhadap infeksi S. rolfsii.

Dari pengamatan yang dilakukan pada galur-galur somaklon R0, R1 dan R2 didapatkan adanya varian somaklonal dengan kelainan fenotipe untuk karakter kualitatif maupun kuantitatif, yaitu abnormalitas jumlah anak daun, percabangan berlebihan, daun menggulung, daun variegata, albino, sterilitas total, jantan steril, tinggi tanaman dan jumlah polong. Walaupun sebagian besar fenotipe varian bersifat merugikan, namun sejumlah galur somaklon menghasilkan polong bernas yang sama atau lebih banyak daripada tanaman awal.

Dari evaluasi respons populasi somaklon R1 dan R2 terhadap infeksi S. rolfsii di rumah plastik didapatkan sejumlah galur somaklon kacang tanah yang resisten terhadap penyakit busuk batang Sclerotium, yang juga mampu menghasilkan polong bernas dalam jumlah sama atau lebih banyak daripada tanaman awal yang tidak diinokulasi cendawan. Dengan demikian, dalam penelitian ini induksi variasi somaklonal melalui kultur in vitro yang diikuti dengan seleksi in vitro menggunakan filtrat kultur cendawan patogen sebagai agens penyeleksi telah terbukti efektif untuk mendapatkan varian somaklonal tanaman yang resisten terhadap infeksi cendawan patogen tersebut.

2.Pengendalian Hayati

Usaha pengendalian penyakit pada kacang tanah umumnya menggunakan zat-zat kimia. Namun pada akhir-akhir ini diusahakan pengendalian hayati dengan menggunakan mikroorganisme antagonis. Salah satu mikroorganisme antagonis yang digunakan ialah jamur Gliocladium virens. Jamur ini mampu menekan pertumbuhan Sclerotium rolfsii penyebab penyakit busuk batang, enzimnya diduga beta-glucanase. G.virens dapat mengeluarkan antibiotic gliotoksin, glioviridin dan viridian yang bersifat fungisiatik. Gliotoksin dapat menghambat pertumbuhan cendawan dan bakteri, sedangkan viridian merupakan senyawa yang dapat menghambat cendawan. G.virens dapat tumbuh baik pada substrat organic, media kering dan kondisi asam sampai sedikit basa.

Pupuk kandang merupakan sakah satu jenis pupuk organic yang berasal dari kotoran hewan seperti ayam, sapi atau kambing, yang sifatnya padat dan cair. Pada umumnya kotoran yang berasal dari hewan mengandung unsure hara lengkap yang dibutuhkan tanaman. Unsur hara yang terkandung dalam pupuk kandang adalah unsure makro seperti Ca, Mg, S, dan unsure hara mikro seperti Na, Fe, Cu, dan Mo.

Pada proses pembuatan pupuk kandang biasanya diberi bahan tambahan seperti dedak atau sekan padi dan mikroorganisme perombak bahan organic lainya, seperti bakteri atau jamur. G.virens, sehingga secara tidak langsung ikut serta dalam menyediakan nutrisi bagi tanaman dan secara langsung dapat menghambat pertumbuhan pathogen. Oleh karena itu perlu diteliti penggunan G.virens dan pupuk kandang untuk menekan pertumbuhan S.rolfsii di pertanaman kacang tanah. (Winarsih, 1997)

PEMBAHASAN UMUM

Kacang tanah merupakan tanaman pangan berupa semak yang berasal dari Amerika Selatan, tepatnya berasal dari Brazilia. Penanaman pertama kali dilakukan oleh orang Indian (suku asli bangsa Amerika). Di Benua Amerika penanaman berkembang yang dilakukan oleh pendatang dari Eropa. Kacang Tanah ini pertama kali masuk ke Indonesia pada awal abad ke-17, dibawa oleh pedagang Cina dan Portugis. Nama lain dari kacang tanah adalah kacang una, suuk, kacang jebrol, kacang bandung, kacang tuban, kacang kole, kacang banggala. Bahasa Inggrisnya kacang tanah adalah “peanut” atau “groundnut”.

Seperti kebanyakan tanaman yang hidup di dunia, kacang tanah juga memiliki gangguan-gangguan dalam proses budidayanya, yaitu berupa hama dan penyakit yang dapat mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangannya. Diantara penyakit-penyakit yang umum ditemukan didalam budidaya tanaman padi diantaranya adalah penyakit layu, sapu setan, bercak daun, karat, dan busuk batang.

Tabel Penyakit Penting pada kacang tanah

No Nama Penyakit Penyebab Gejala Pengendalian
1 Layu bakteri Pseudomonas solanacearum Tanaman layu, warna daun tetap hijau, kemudian mati. Daun yang layu tampak seperti bekas disiram air panas.
  • Varietas tahan contoh : gajah, pelanduk, kidang, tapir, lokal Pasuran, dan presi.
  • Rotasi tanaman
  • Bahan kimia seperti chloropicrin.
  • Memanfaatkan Actinomycetes yang bersifat anatagoistik.
  • Pemakaian benih sehat.
  • Sanitasi yang baik.
2 Belang Bean common mosaic virus Gejala belang berwana hijau tua di kelilingi daerah yang lebih terang atau hijau kekuning – kuningan. Gejala awal pada daun muda terlihat adanya bintik – bintik klorotik, selanjutnya berkembang menjadi belang – belang melingkar. Pada daun tua berwana hijau kekuningan dengan belang – belang berwana hijau tua.
  • Mengatur waktu tanam
  • Gunakan benih yang sehat
  • Sanitasi
  • Rotasi tanaman
3 Bercak daun Cercospora arachidicola Gejala awal berupa bercak bulat berwarna cokelat tua sampai hitam pada permukaan bawah daun dan cokelat kemerahan sampai hitam pada permukaan atas daun. Pada daun terdapat halo berwarna kuning jelas.
  • Pengendalian kultur teknis
  • Sanitasi
  • Penggunaan fungisida, seperti : Daconil 75 WP ( 2kg/ha ), Baycor  300 EC ( 0,5 1/ha ), dan Topsin-M 70 WP ( 0,5 kg/ha ).
Cercospora personatum

Gejalanya hampir sama dengan bercak daun awal, hanya saja bercaknya lebih kecil, bulat, dan lebih gelap (hitam) pada permukaan bawah daun. Selain daun, tangkai daun dan batang pun dapat diserang. Apabila serangannya parah, daun akan kering dan rontok.

  • Penggunaan fungisida, seperti : Topsin-M 70 WP, Antracol 70 WP, Dithane M – 45, Nemispor 70 WP, dan Baycor 300 EC Menggunakan varietas tahan
  • Rotasi tanaman
  • Sanitasi
4 Busuk Batang Sclerotium rolfsii

Batang mati dan dilapisi miselium putih seperti bulu halus hingga munculnya sklerotia cendawan pada batang yang terserang. Bagian tanaman yang terinfeksi biasanya pangkal batang akan berwana coklat gelap yang dikelilingi sclerotia yang berbentuk butiran kecil

  • Penggunaan Varietas resisten.
    • Pengendalian Hayati

Berdasarkan  segi nilai ekonomis, dari keempat penyakit tersebut yang paling berpotensi besar menimbulkan kerugian yaitu penyakit yang disebabkan oleh Bean common mosaic virus , karena dapat menghilangkan  hasil hingga 60%, hal ini tergantung dari jenis spesies dan virietas kacang tanah  yang dibudidayakan, musim, dan  umur kacang tanah yang terserang penyakit. Selanjutnya penyakit busuk batang yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii cukup menimbulkan kerugian yaitu sekitar 20%.

Sedangkan pada pada penyakit busuk batang yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii merupakan penyakit yang sulit dikendalikan dari pada penyakit yang  lain. Hal ini disebabkan cendawan  ini bersifat tular tanah (soil borne) dimana pengendalian pada tanah yang terkontaminasi sulit dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Agrios George N.2005. Plant Pathology Fifth Edition. Florida: Elsevier Academic Press.

Compendium Of Groundnut Deseases

Djafaruddin, Prof. Ir. 2008. Dasar-Dasar Pengendalian Penyakit Tanaman. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Mat Akin, Hasriadi. 2006. Virologi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.

http://www.scribd.com/doc/8755477/Kacang Tanah?secret_password=&autodown=pdf [10 05 10]

http://165.91.154.132/Texlab/Multicrop/sb.html [17 05 10]

http://bdpunib.org/akta/artikelakta/2006/56.pdf [10 05 10]

http://biogen.litbang.deptan.go.id/produk/kitELISA.php [17 05 10]

http://plantpath.caes.uga.edu/extension/plants/vegetables/TomatoSouthernBacterialWilt.html [17 05 10]

http://www.cals.ncsu.edu/plantpath/people/faculty/shew-b/images2/leaf_spots.html [17 05 10]

http://dwb4.unl.edu/Chem/CHEM869P/CHEM869PLinks/www.bact.wisc.edu/Bact303/MajorGroupsOfProkaryotes [18 05 10]

http://www.cals.ncsu.edu/course/pp728/Sminor/Sclerotinia_minor.html [18 05 10]

Nama               : Restu Gilang P.                 Tanggal praktikum : 4 Mei 2010

Nrp                  : A34080053                       Bahan  tnaman  :  Phaseolus radiatus

Mayor              : Proteksi Tanaman              Asisten : 1.Vitria Melani (G34050386)

Kelompok       : 9                                                      2.Risa Swandari (G34062569)

UJI BIOLOGIS 2,4 D

  1. I. Tujuan Percobaan

Menentukan konsentrasi epektif 2,4 D sebagai herbisida dengan menggunakan kurva respon tumbuh akar terhadap logaritma konsentrasi 2,4 D.

Pendahuluan

Kemajuan teknologi di bidang pertanian telah membuka peluang yang sangat luas bagi penggunaan pestisida. Akan tetapi penggunaan pestisida yang mengandung bahan aktif tertentu secara terus menerus dan tidak memperhatikan petunjuk serta saran penggunaannya dapat mengancam keselamatan lingkungan karena keberadaan residu dari bahan aktif pestisida yang tertinggal di dalam tanah dan di dalam air dapat berpotensi menghasilkan masalah lingkungan yang serius.

2,4-Dichlorophenoxyacetic Acid yang lebih dikenal dengan sebutan 2,4-D merupakan salah satu bahan aktif herbisida yang banyak digunakan oleh petani. 2,4-D adalah salah satu herbisida yang sudah cukup lama digunakan di Amerika Serikat dan dibuat selama perang dunia kedua dan menjadi sangat terkenal karena merupakan salah satu bahan dasar Agent Orange yang begitu kontroversial selama Perang Vietnam. Sekarang herbisida dengan bahan aktif 2,4-D sangat banyak beredar di pasaran.

Residu pemakaian pestisida, khususnya 2,4-D yang tidak terkontrol di lahan-lahan pertanian merupakan tekanan yang sangat berat bagi ekosistem lingkungan perairan pantai/laut. Dengan demikian dapat digolongkan sebagai bahan pencemar (polutan) sehingga perlu dipikirkan untuk menanggulangi residu yang berbahaya itu.

Hasil Pengamatan

Tabel data panjang akar

konsentrasi Rata-rata panjang akar (mm) Simpangan baku (S2) Simpangan galat (S)
0 2,83 0,215 0,464
0,001 2,03 0,507 0,712
0,01 3,56 0,8 0,895
0,1 2,4 0,636 0,798
1,0 0 0
10,0 0 0
Tidak diketahui 0 0

Perhitungan

Simpangan baku

S2 =

S2 0 = 0,215                  S2 0,01 = =0,8                    S21 = 0

S2 0,001 =           S2 0,1 = 0,636

Galat baku

S = 2

S  0 =  = 0,464              S  0,01 =  = 0,895         S  1 =  = 0

S  0,001 = = 0,717        S  0,1 =  = 0,798

Log konsentrasi (x)


  1. II. Pembahasan

Dari hasil penelitian data diatas, ternyata tanaman yang menggunakan tidak menggunakan 2,4 Dmengalami pertumbuhan akar yang begitu subur, hal ini disebabkan karena tidak mengalami hambatan dalam pertumbuhan. Sedangkan pada tanaman yang diberi 2,4 D pertumbuhan bervariasi, namun jika dilihat dari data ternyata semakin tinggi konsetrasi 2,4 D yang diberikan penghambatan akan semakin besar terhadap  pemanjangan akar.

Pada tanaman yang diberi 2,4 D yang tidak diketahui konsentrasinya tanaman tidak tumbuh sama sekali, dapat disimpulkan berarti larutan tersebut pasti konsentrasinya lebih dari konsentrasi 1.00. apliasi herbisida menggunakan 2,4 D yang sesuai untuk diaplikasikan yaitu konsentrai diatas 1(satu).

Asam 2,4-D dan Kinetin merupakan zat pengatur tumbuh yang banyak digunakan dalam kultur jaringan tumbuhan. Asam 2,4-D adalah salah satu auksin yang berperan dalam pertumbuhan kalus dari eksplan dan menghambat regenerasi pucuk tanaman. Tapi pada praktikum ini disimpan ditanaman gelap jadi pengaruh 2,4 D hanya dapat terlihat dari perpanjangan akar.

Pemakaian zat pengatur tumbuh asam 2,4–D biasanya digunakan dalam jumlah kecil dan dalam waktu yang singkat, antara 2 – 4 minggu karena merupakan auksin kuat, artinya auksin ini tidak dapat diuraikan di dalam tubuh tanaman (Hendaryono dan Wijayani, 1994). Sebab pada suatu dosis tertentu asam 2,4-D sanggup membuat mutasi-mutasi (Suryowinoto, 1996). Menurut Wattimena (1988) asam 2,4–D mempunyai sifat fitotoksisitas yang tinggi sehingga dapat bersifat herbisida.

  1. III. Kesimpulan

Dari hasil pengamatan, 2,4 D dapat menjadi herbisida (penghambat pertumbuhan) pada konsentrasi 1 atau lebih dari satu. Pada tanaman yang tidak diketaui konsentrasinya menunjukan tanaman tersebut lebih dari satu konsentrasinya karena tanamannya mati. 2,4 D merupakan auksin kuat sehingga dalam jumlah banyak dapat menyebabkan kematian bagi tanaman.

  1. IV. Daftar Pustaka

Wattimena, G. A. 1988. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Bogor: PAU IPB.

Suryowinoto. 1996. Dasar-dasar Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Jakarta: Erlangga.

Hendaryono dan Wijayani. 1994. Kultur Jaringan : Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien. Jakarta: Agromedia Pustaka.

  1. V. Jawaban Pertanyaan
  2. Konsentrasi 2,4 D berbanding terbalik dengan panjang akar mentimun. Apabila kinsentrasi 2,4 D yang digunakan semakin tinggi maka panjang rata-rata akar mentimun semakin pendek. Hal ini menunjukan auksin aktif dan efektif bila digunakan dengan konsentrasi rendah.
  3. pH berpengaruh untuk melindungi tanaman mentimun dari penyakit tertentu. Digunakan larutan penyangga fospat untuk menstabilkan senyawa 2,4 D yang mudah dipengaruhi pH (kurang reaktif pada pH)
  4. ya, panjanh rata-rata akar 2,4 D paling rendah berada pada perlakuan larutan penyangga, dilihat dari selisih simpangan baku dan galat baru dengan konsentrasi terendah larutan penyangga
  5. karena konsentrasi 2,4 D nya belum diketahui sehingga harus menghitung dulu konsentrasi yang digunakan. Sehingga nomor cawan me,udahkan untuk tertukarnya cawan petri.

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU PENYAKIT TUMBUHAN DASAR

POSTULAT KOCH

Disusun oleh :

Restu Gilang P.                                    A34080053

Maeniwati R.                                        A34080054

Mohammad Karami                              A34080055

Rizkika Latania A.                               A34080058

Dosen pengajar :

Dr.Ir. Tri Asmira D. M.Agr

Dr.Ir. Abdjad Asih N. M.Sc

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2010


BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Postulat Koch merupakan salah satu metode yang dapat dilakukan untuk membuktikan penyebab suatu penyakit. Metode yang diperkenalkan oleh Robert Koch(1884) ini memiliki empat syarat yang harus dipenuhi untuk dapat membuktikan suatu patogen apakah benar-benar dapat menimbulkan penyakit pada inangya atau tidak. Semua dari syarat tersebut harus terpenuhi untuk dapat menentukan hubungan keterkaitan antara patogen penyebab penyakitdan inangnya. Sejarahnya Robert Koch menerpakan metode ini untuk menentukan tuberkulosis dan etiologi antraks, namun sekarang telah diujikan pada berbagai jenis penyakit.

Syarat yang diperlukan suatu organisme agar dapat ditetapkan sebagai penyebab penyakit adalah sebagai berikut : Organisme (patogen) harus ditemukan dalam tanaman yang sakit, tidak pada yang sehat. Lalu organisme harus diisolasi dari tanaman sakit dan dibiakkan dalam kultur murni. Kemudian organisme yang dikulturkan harus menimbulkan penyakit pada tanaman yang sehat. Terakhir organisme tersebut harus diisolasi ulang dari tanaman yang dicobakan tersebut dan harus menghasilkan biakan murni yang sama dengan biakan pada isolasi pertama kali. Penerapan metode ini tidak bisa dilakukan patogen yang bersifat parasit obligat, karena patogen tidak dapat dimurnikan dalam media buatan.

Tujuan

Percobaan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman praktek Postulat koch dalam identifikasi penyebab penyakit tanaman, agar kelak mahasiswa dapat menerapkan di lapangan dan laboratorium.


BAB II

BAHAN DAN METODE

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada percobaan kali ini adalah tanaman sakit yang meliputi daun tanaman padi yang terserang penyakit kresek dan cabai yang terserang penyakit antraknosa. Tanaman padi dan buah cabai yang sehat juga digunakan sebagai bahan inokulasi. Bahan lain yang digunakan adalah berbagai macam jenis media tumbuh cendawan dan bakteri diantaranya NA, PDA dan YDCA, air steril, larutan klorox, dan larutan alkohol 70%. Sedangkan alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu cawan petri, gunting, jarum inokulasi, bunsen pisau, pinset, lemari steril, microwave, plastik, nampan,tissue, plastik silk.

Metode

Patogen yang diuji pada praktikum postulat koch yang telah dilakukan adalah Xanthomonas campestris pv. oryzae yang menyebabkan penyakit kresek pada tanaman padi dan Colletotrichum capsici yang menyebabkan penyakit antraknosa pada tanaman cabai.  Metode yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah pertama dengan menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam percobaan kali ini. Kemudian mengencerkan agar PDA dan YDCA dengan microwave selama 10 menit dan memindahkan agar tesebut sebanyak 10 ml ke dalam cawan petri dengan teknik aseptik. Lalu agar dibiarkan hingga dingin dan mengeras. Bagian tanaman yang sakit yaitu daun tanaman padi yang menunjukkan gejala hawar daun sedangkan buah cabai dipotong pada bagian antara yang sakit dan yang sehat kemudian direndam di dalam larutan klorox selama 1 menit. Selanjutnya daun tanaman padi direndam di dalam air steril. Air steril tersebut dijadikan inokulum primer yang kemudian digoreskan ke media YDCA. Media hasil inokulasi ditutup dan disimpan lalu ditunggu 2 hari untuk melihat hasil inokulasi.

Dari hasil inokulasi dipilih koloni tunggal bakteri yang diidentifikasi merupakan bakteri Xanthomonas campestris pv. oryzae, lalu dipindahkan ke media YDCA yang baru untuk dimurnikan. Pemurnian bakteri ini dilakukan sebanyak dua kali. Hasil pemurnian bakteri terkhir diencerkan dengan menggunakan air steril dan diaduk dengan pengaduk kaca. Air hasil pengenceran bakteri tersebut diletakkan dalam gelas steril lalu gunting direndam selama 5 menit dan daun padi sehat tersebut digunting. Sedangkan hasil pemurnian cendawan terakhir diinokulasikan ke buah cabai yang masih sehat dengan bagian miselium cendawan diletakkan menempel dengan permukaan kulit cabai. Dan terakhir hasil inokulasi pada tanaman padi dan cabai tersebut diamati selama 1 minggu.


BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan

Postulat Koch Pada Tanaman Padi

A.  Isolasi

Table 1.1 Hasil pengamatan isolasi bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae pada media YDCA

Ulangan ke Waktu tumbuh Keterangan
I 2 hari Bakteri yang tumbuh terkontaminasi karena tidak terlihat bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae yang tumbuh pada media YDCA. Koloni bakteri yang tumbuh seharusnya berwarna kuning, tetapi di media berwarna putih.

Gambar diambil oleh Maeniwati Rachmah


B. Peremajaan

Tabel 2.1  Hasil pengamatan Peremajaan bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae pada media YDCA

Ulangan ke Waktu tumbuh Keterangan
1 dan 2 2-7 hari Peremajaan pada ulangan ke-2, bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae telah berhasil  dimurnikan sehingga siap untuk diinokulasi ke tanaman padi yang sehat untuk dijadikan inokulum primer

Gambar diambil oleh Maeniwati Rachmah


C.  Inokulasi

Tabel 3.1 Hasil pengamatan inokulasi bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae pada tanaman padi yang sehat

Ulangan ke Waktu timbul gejala Keterangan
1 Inokulum primer bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae diencerkan dan siap diinokulasikan ke tanaman padi yang sehat.

Gambar diambil oleh Maeniwati Rachmah

Tanaman padi sehat  yang siap diinokulasi dengan inokulum primer bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae

Gambar diambil oleh Maeniwati Rachmah

G

Gambar diambil oleh Aris Rama

Daun tanaman padi dipotong untuk membuat luka sebagai awal masuknya bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae

Gambar diambil oleh Maeniwati Rachmah

2-7 hari Setelah 7 hari, gejala muncul  berupa hawar pada bagian ujung tanaman padi.

Gambar diambil oleh Maeniwati Rachmah


Postulat Koch pada Cabai (Colletotrichum capsici)

Colletotrichum capsici pada tanaman cabai

(a)                                                                      (b)

Gambar foto oleh Maeniwati Rachmah

Keterangan : (a) Hasil setelah 1 minggu

(b)   Hasil setelah 2 minggu

3.2 Pembahasan

Postulat Koch ialah 4 kriteria yang dirumuskan oleh Robert Koch pada  tahun 1884 dan diterbitkan pada tahun 1890. Menurut Koch, keempatnya harus dipenuhi untuk menentukan hubungan sebab-akibat antara parasit dan penyakit (en.wikipedia.org).

Isi Postulat Koch antara lain:

  1. Organisme (parasit) harus ditemukan dalam tanaman yang sakit, tidak pada yang sehat
  2. Organisme harus diisolasi dari tanaman sakit dan dibiakkan dalam kultur murni
  3. Organisme yang dikulturkan harus menimbulkan penyakit pada tanaman yang sehat
  4. Organisme tersebut harus diisolasi ulang dari tanaman yang dicobakan tersebut

Postulat Koch berkembang pada abad ke-19 sebagai panduan umum untuk mengidentifikasi patogen yang dapat diisolasikan dengan teknik tertentu. Kini, beberapa penyebab infektif diterima sebagai penyebab penyakit walaupun tidak memenuhi semua isi postulat. Oleh karena itu, dalam penegakkan diagnosis mikrobiologis tidak diperlukan pemenuhan keseluruhan postulat.

Teknik Postulat Koch meliputi empat tahapan, yaitu asosiasi, isolasi, inokulasi, dan reisolasi. Asosiasi yaitu menemukan gejala penyakit dengan tanda penyakit (pathogen) pada tanaman atau bagian tanaman yang sakit. Isolasi yaitu membuat biakan murni pathogen pada media buatan (pemurnian biakan). Inokulasi adalah menginfeksi tanaman sehat dengan pathogen hasil isolasi dengan tujuan mendapatkan gejala yang sama dengan tahap asosiasi. Reisolasi yaitu mengisolasi kembali patogen hasil inokulasi untuk mendapatkan biakan patogen yang sama dengan tahap isolasi.

Inokulasi bakteri Xanthomonas campestris pv. oryzae dilakukan dari tanaman padi yang berumur dua minggu. Inokulasi yang dilakukan menggunakan media YDCA..

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan mula-mula isolasi bakteri dari tanaman padi yang telah terinfeksi inokulasi bakteri pada media YDCA masih belum berhasil ditumbuhkan dengan sempurna, karena bakteri pada medis sudah terkontaminasi dengan mikroorganisme yang lain.Seharusnya pada media yang ditumbuhkan terdapat koloni berwarna kuning yang merupakan koloni dari bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae, tetapi yang terlihat adalah koloni berwarna putih keabu-abuan.Kontaminasi terjadi karena beberapa faktor yang mempengaruhi hasil isolasi diantaranya kekurang aseptikkan praktikan dalam melakukan isolasi, ruangan tempat percobaan juga kurang steril dari udara luar yang mungkin banyak terdapat organisme lain sebagai agen kontaminan.

Setelah diinkulasi bakteri yang ada pada media dibiakan lagi untuk di murnikan pada media YDCA,media ini merupakan media yang selektif sehingga diharapkan dapat menumbuhkan bakteri ini dengan spesifik.Pada peremajaan pertama masih bakteri masih belum bisa ditumbuhkan dengan murni karena pada media terkontaminasi dan bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae belum tumbuh pada media.Pada ulangan peremajaan yang kedua baru berhasil ditumbuhkan bakteri secara murni. Bakteri yang telah murni siap untuk di inkulasikan kembali pada tanaman padi yang masih sehat untuk melihat gejala yang ditimbulkan.

Tanaman padi sehat yang telah disiapkan kemudian diinkulasi dengan bakteri yang sebelumnya telah diencerkan. Berdasarkan hasil pengamatan pada minggu pertama setelah inokulasi, ditemukan gejala. Pada daun tanaman terlihat hawar dibagian ujung daun yang merupakan titik pemotongan awal sebagai jalan masuk bakteri ke tanaman padi sehingga gejala awal muncul pada bagian tersebut.

Pada inokulasi cendawan Colletotrichum capsici pada cabai, tekniknya sama dengan inokulasi bakteri pada tanaman padi, pada inokulasi cabai diambil miselium cendawan dari inokulum primer. Dari hasil percobaan pada minggu pertama sudah terdapat gejala penyakit berupa bercak hitam.Pada minggu kedua gejala penyakit oleh cendawan ini sudah semakin jelas terlihat dengan adanya bercak kehitaman, cabai membusuk dan keriput.


BAB IV

PENUTUPAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil percobaan dan pengamatan, dapat disimpulkan bahwa Postulat Koch yang dilakukan berhasil. Tanaman padi yang diinokulasi dengan bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae menunjukkan gejala penyakit berupa nekrosis.Pada inokulasi cabai dengan cendawan Colletotrichum capsici menunjukan gejala berupa bercak hitam dan membusuk. Tahapan Postulat Koch yang digunakan meliputi asosiasi, isolasi, inokulasi, peremajaan, reisolasi.


DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. 2009. Xanthomonas campestris. http://en.wikipedia.org/wiki  [30 Mei 2010]

[Anonim]. Groundnut Disease. www.ikisan.com/links/ap_groundnutDisease [31 Mei 2010]

[Anonim]. http://www.scielo.br/img/revistas/fb/v31n4/15f1f.jpg [29 Mei 2010]

[Anonim].http://www.viarural.com.ar/viarural.com.ar/agricultura/aa-enfermedades/Xanthomonas campestris-02-red.jpg [30 Mei 2010]

Adnan, Abdul Muin. 2009. Ilmu Penyakit Tumbuhan Dasar. Bogor: Departemen Proteksi Tanaman IPB.

Perdana, Dimas Aditya. 2009. Budidaya Tanaman Cabai. http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2010/05/budidaya-cabai-.html [30 Mei 2010]

Sinaga, Meity Suradji. 2006. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Jakarta: Penebar Swadaya.

continue reading…